Memburu Ruby di Rawa Bening

 

 

'Boleh ya, empat ratus ribu,'' kata seorang artis film tahun 80-an sambil memegang sebuah cincin bermatakan batu saphir. Di depan lelaki itu terlihat bermacam-macam cincin dari berbagai jenis dan warna yang diletakkan pada sebuah meja. Disampingnya berderet-deret meja serupa yang saling berhimpitan membentuk setengah lingkaran. Itulah suasana perdagangan batu mulia dan batu akik di salah satu pojok lantai satu Pasar Rawa Bening. Pasar itu sendiri terletak di depan Stasiun Kereta Api Jatinegara. Ratusan pedagang yang menggelar dagangan serupa setiap harinya.

Batu-batu yang dipasarkan, terdiri dari ratusan jenis dengan warna yang berbeda-beda pula. Untuk batu mulia saja antara lain ada Jamrud, Saphir, Pirus, Giok, Ruby, dan Mata Kucing. ''Itu belum dibedakan dari mana asalnya,'' kata Rudi, seorang pedagang, menjelaskan.

Begitu juga batu akik. Jenis yang gampang ditemukan di sini antara lain Panca Warna, Badar Susu, Badar Lumut, Kecubung, dan Kali Maya. Untuk akik biasanya berasal dari dalam negeri, antara lain dari Garut, Sukabumi, Banten, Wonogiri, dan Kalimantan yang merupakan daerah penghasil batu akik.

Menurut Rudi harga untuk masing-masing batu sangat bervariasi, bisa puluhan ribu hingga jutaan rupiah. Untuk sebuah Giok, Rudi menjual dengan harga Rp 400 ribu hingga Rp 1,5 juta. Saphir kuning ia hargai sebesar Rp 250 ribu. Untuk saphir bahkan ada yang harganya sampai Rp 50 juta. Batu-batu tersebut ada yang ia jual dengan cincinnya, tapi ada pula yang ia jual tanpa cincin.

Rudi mengaku bahwa tidak ada standar yang baku mengenai harga sebuah batu. ''Ini kan berhubungan dengan hobby, kalau mereka sudah suka berapapun harganya pasti akan membeli,'' ungkapnya lebih lanjut. Sehingga keuntungan untuk tiap batu yang dijual pun berbeda-beda, Ia antusias menceritakan bagaimana sebuah batu yang ia beli seharga Rp 100.000 terjual dengan harga Rp 1.000.000.

Mutu sebuah batu mulia, menurut Rudi, harganya ditentukan oleh kejernihan dan kilapannya. ''Kalau batunya semakin mengkristal, maka harganya mahal,'' jelas Rudi. Sedangkan untuk batu akik bisa dilihat dari keindahan warna serta gambar yang muncul pada batu tersebut.

Untuk mengetahui mutu sebuah batu maka dibutuhkan pengalaman yang cukup. Kalau tidak seorang pembeli akan mudah tertipu. Menurut Rudi batu-batu tersebut ada yang memang murni batu alam, tapi juga ada yang merupakan batu 'masakan'. ''Lihat, ini harganya Rp 10 ribu sedang ini harganya Rp 250.000,'' ujar Rudi sambil menunjukkan dua buah batu safir berwarna kuning.

Bagaimana membedakan asli dengan masakan? Menurutnya apabila batu itu kelihatan sangat jernih atau motif gambarnya sangat jelas, sangat mungkin itu bukanlah batu asli tapi buatan. ''Batu yang kayak gini ini biasanya dari karawang, hasil dari limbah pabrik yang membeku,'' jelas Rudi sambil menunjukkan batu 'masakan' tersebut.

Selain penjual batu, di pasar ini juga dijual cincin saja tanpa batu. Cincin atau biasa disebut dengan 'ikatan' tersebut, biasanya terbuat dari perak atau baja putih. Masing-masing cincin memiliki motif yang berbeda. Iing, salah seorang penjual cincin tersebut menyebutkan motif-motif yang dijualnya antara lain motif lady dy, jepit diamond sirkon, sisik naga, perak cor, maupun motif kombinasi. ''Motif jepit diamond sirkon dan kombinasi biasanya yang disukai pembeli,'' jelasnya. Harganya berkisar antara Rp 25 ribu hingga Rp 40 ribu rupiah.

Di bagian belakang pasar juga akan kita dapati beberapa orang yang melayani jasa memotong, sekaligus menggosok dan memoles batu alam. Batu-batu yang berukuran besar atau masih berbentuk bongkahan akan dipotong kecil-kecil untuk kemudian dipasangkan pada cincin atau liontin.

Sejumlah publik figur tercatat sebagai pelanggan beberapa kios di pasar ini, seperti IGK Manila, Jaja Miharja, dan Hendra Cipta. ''Ada beberapa pelawak yang kalau mau manggung juga membeli disini,'' ujar Baharudin Syah, pemilik Toko Srikandi.

Bagi yang tidak membawa uang tunai, maka Baharudin juga menerima pembayaran dengan kartu kredit seperti Visa, Master Card, maupun Debit BCA. Untuk itu Baharudin menyiapkan dua buah mesin 'penggesek' di tokonya.

 

 

Kembali